Selasa, 20 September 2011

KREKETAN AWI / BAMBU

Mainan ini terbuat dari bambu, apabila mainan ini diputar akan menghasilkan suara kreket kreket sehingga disebut Kreketan awi atau kreketan bambu. Mainan ini banyak tersebar di wilayah agraris seperti jawa. Ada macam macam kreketan, ada yang terbuat dari bambu ada juga yang terbuat dari kayu. Kreketan ini selain sebagai mainan juga berfungsi sebagai pengusir hama padi terutama burung-burung, burung akan terbang bila mendengar bunyi bunyian.

Bahan Mainan :
-Bambu
-Karet
-Kayu
-Buku Bambu



INFORMASI : bediljepret@gmail.com   |   08157120873

TOROKTOKAN AWI / BAMBU

Mainan ini terbuat dari bambu, apabaila mainan ini diputar akan menghasilkan suara troktok troktok sehingga disebut "toroktokan" awi atau toroktokan bambu. Mainan ini banyak tersebar di wilayah agraris seperti jawa.  Toroktokan awi ini selain sebagai mainan juga berfungsi sebagai pengusir hama padi terutama burung-burung, burung akan terbang bila mendengar bunyi bunyian.

Bahan Mainan :
-Bambu
-Kayu
-Buku Bambu


INFORMASI : bediljepret@gmail.com   |   08157120873

Senin, 19 September 2011

KOLECER


Kolecer dalam bahasa indonesia disebut baling baling adalah permainan tradisional yang sekarang masih dapat kita temui di kampung kampung. Ciri khas permainan tradisional ini adalah menggunakan bahan bahan yang di dapat dari alam sekitar, seperti bambu atau kayu.

Kolecer adalah permainan yang terbuat dari kayu berbentuk "T". bagian horisontalnya akan berputa jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. Semakin kencang anginya, semakin kencang pula putaran dan suara yang dihasilkan kolecer. "Ada kepuasan batin, jika kolecer kita berputar dengan cepat dan menghasilkan suara yang cukup keras".

Rabu, 14 September 2011

GALASIN / GOBAK SODOR


Istilah permainan Galasin / Galah Asin dikenal di daerah jawa barat , sedangkan di daerah lain seperti galah lebih dikenal di Kepulauan Natuna, sementara di beberapa daerah Kepulauan Riau lainnya dikenal dengan nama galah panjang. Di daerah Riau Daratan, permainan galah panjang ini disebut main cak bur atau main belon. Sedang di daerah jawa tengah di kenal dengan nama Gobak Sodor

Galasin adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang.

Cara Bermain
Diawali dengan membuat garis-garis penjagaan dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap, Galasin terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga orang. Aturan mainnya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan siapa yang juara adalah seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan , caranya yang dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.
Permainan ini sangat menarik, menyenangkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Kalau kita sudah lepas dari garis batas terakhir kita menjadi bebas merdekaa.. inilah yang kita tuju.. Nilai Spiritual dalam Permainan Galasin….Selain kebersamaan, kita juga bisa belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lain agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari kungkungan kita. Di pihak lain bagi penerobos yang piawai, disana masih banyak pintu-pintu yang terbuka apabila satu celah dirasa telah tertutup. Jangan putus asa apabila dirasa ada pintu satu yang dijaga, karena masih ada pintu lain yang siap menerima kedatangan kita, yang penting kita mau mau berusaha dan bertindak segera. Ingatlah bahwa peluang selalu ada, walaupun terkadang nilai probabilitasnya sedikit.

Yu..uu....kita bermain lagi.......

Selasa, 23 Agustus 2011

GATRIK

Gatrik atau dengan nama lain yaitu tak kadal, patil lele atau juga di kenal dengan nama benthik di daerah sekitar yogyakarta, jawa tengah. Pada masanya pernah menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.

Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara dua batu atau di atas lubang (luwokan) harus dipersiapkan di atas tanah lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir.
Biasanya setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.

Rabu, 03 Agustus 2011

ENGKLE

Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Di setiap daerahnya dikenal dengan nama yang berbeda. Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke nusantara pada jaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.
Permainan Sunda ini biasanya dimainkan oleh anak-anak, dengan dua sampai lima orang peserta. Di Jawa, permainan ini disebut engklek dan biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan yang serupa dengan peraturan berbeda di Britania Raya disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut diduga sangat tua dan dimulai dari zaman Kekaisaran Romawi.


Cara Bermain :
Tiap anak mengambil batu kecil dan berusaha melemparkan ke arena, mulai dari kotak yang pertama. Lalu anak akan berjinjit masuk ke dalam kotak-kotak tersebut. Setalah berhasil sampai ujung, anak akan berusaha kembali ke tempat asal, sampil memungut batu miliknya pada kotak sebelum kotak yang terdapat batu miliknya. Giliran akan berganti bila saat anak berjinjit, dia menyentuh garis atau salah melemparkan batu.

Setelah berhasil menempatkan batu sampai ujung, dia akan mendapatkan bintang. Dimana bintang diletakkan, ditentukan dengan melemparkan batu ke kotak yang diinginkan. Kotak yang terdapat bintang miliknya tidak boleh diinjak oleh lawan-lawannya sehingga akan menyulitkan lawan. Anak yang paling banyak mendapatkan bintang adalah pemenangnya.